17 Juni 2010

Bid’ahnya Dzikir Jama’ah Ala Arifin Ilham ( Sesi 8 - 11 )

Bid’ahnya Dzikir Jama’ah Ala Arifin Ilham (8)
Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi

Hukum Dzikir Dan Do’a Setelah Shalat Fardlu dengan Suara Keras Berjama’ah
Kami uraikan masalah ini dan beberapa pendapat ulama tentang tidak disyari’atkannya dzikir jama’i sesudah shalat fardlu. Padahal asalnya, dzikir setelah shalat itu dituntunkan oleh syari’at, dan ini diingkari karena tatacaranya yang bid’ah. Maka bagaimana dengan dzikir dan tatacaranya yang kedua-duanya adalah bid’ah? Hukum Dzikir Dan Do’a Setelah Shalat Fardlu dengan Suara keras berjama’ah Kami uraikan masalah ini dan beberapa pendapat ulama tentang tidak disyari’atkannya dzikir jama’i sesudah shalat fardlu. Padahal asalnya, dzikir setelah shalat itu dituntunkan oleh syari’at, dan ini diingkari karena tatacaranya yang bid’ah. Maka bagaimana dengan dzikir dan tatacaranya yang kedua-duanya adalah bid’ah? Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hal ini:”Di negeri kami ada dua jama’ah. Masing-masing mengaku bahwa dialah yang benar. Selesai shalat, kami lihat salah satu jama’ah itu mengangkat tangan dan berdo’a secara berjama’ah dengan lafaz seperti berikut ini:

اللهم صل على محمد عبدك
ورسولك النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم تسليما

(Ya Allah limpahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepada Muhammad, hamba dan Rasul-Mu, Nabi yang Ummi (tidak dapat membaca dan menulis). Juga kepada keluarga dan para sahabatnya.”

Ada do’a lain yang mereka namakan Al Fatih. Sementara jama’ah lain, ketika Imam mengucapkan salam, mengatakan:”Kami tidak akan melakukan seperti perbuatan jama’ah pertama. Dan ketika jama’ah yang pertama ditanya, mereka katakan bahwa do’a ini adalah pelengkap atau penyempurna shalat, dan tidak lain hanyalah kebaikan. Adapun jama’ah kedua, mereka mengatakan bahwa do’a ini adalah bid’ah yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد.

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.”

Ada beberapa hadits lain yang mereka jadikan hujjah, dan kami hanyalah orang-orang yang masih muda belum tahu mana yang benar. Mohon agar dijelaskan kepada kami mana yang benar.” Jawab:”Do’a jama’i setelah Imam mengucapkan salam dengan serempak, tidak ada asalnya yang menunjukkan bahwa amalan ini disyari’atkan. Dan Dewan Riset dan Fatwa memberikan jawaban sebegai berikut: “Do’a sesudah shalat fardlu dengan mengangkat kedua tangan baik oleh Imam maupun ma`mum, sendirian atau bersama-sama, bukanlah sunnah. Amalan ini adalah bid’ah yang tidak ada keterangannya sedikitpun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum. Adapun do’a tanpa hal-hal demikian, boleh dilakukan karena memang ada keterangannya dalam beberapa hadits. Wabillahi taufiq. Semoga shalawat tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan oara sahabatnya. (Lajnah Daimah). Pada bagian lain,
Lajnah menjawab:”Do’a dengan suara keras setelah shalat lima waktu, ataupun sunnah rawatib. Atau do’a-do’a sesudahnya dengan cara berjama’ah dan terus-menerus dikerjakan merupakan perbuatan bid’ah yang munkar. Tidak ada keterangan sedikitpun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tentang hal ini, juga para sahabatnya radliyallahu ‘anhum. Barangsiapa yang berdo’a setelah selesai shalat fardlu atau sunnah rawatibnya dengan cara berjama’ah, maka ini adalah menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan apabila mereka menganggap orang yang mengingkari hal ini atau tidak berbuat sebagaimana yang mereka lakukan sebagai orang kafir atau bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka ini adalah kebodohan dan kesesatan serta memutarbalikkan kenyataan yang ada. (Lajnah Daimah, lihat Fatwa Islamiyah 1/318-319).
(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman).
Sumber: darussalaf.or.id

Bid’ahnya Dzikir Jama’ah Ala Arifin Ilham (9)


Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi
Jangan Terkecoh Dengan Banyaknya Yang Menangis

Orang-orang yang membela dan mendukung amalan ini beralasan dengan mengatakan:”Sesungguhnya dzikir ini mendekatkan mereka kepada Allah Ta’ala. Membuat hati mereka khusyuk mengingat Allah ‘Azza wa Jalla sampai sebagian mereka menangis mendengarnya.”

Perkataan mereka bahwa banyak yang menangis bukanlah dalil benar atau sahnya amalan mereka ini. Betapa banyak orang yang menangis ketika mendengar nyanyian, atau menonton film dan sandiwara. Bahkan betapa banyak manusia yang menangis tetapi dirinya masih berenang dalam kemaksiatan dan kedurhakaan. Semua ini menunjukkan bahwa menangis dalam suatu perbuatan belum tentu menjadi dalil sahnya amalan itu.
Imam Al Qurthubi rahimahullahu mengatakan (dalam tafsirnya 9/145) tentang firman Allah Ta’ala:

وجاؤوا أباهم عشاء يبكون

(Merekapun menemui ayah mereka pada malam hari dalam keadaan menangis),
kata para ulama:”Ayat ini menunjukkan bahwa tangis seseorang bukanlah dalil benar atau jujurnya perkataannya. Sebab, kemungkinan tangis itu dibuat-buat, dan memang ada orang yang mampu melakukannya ada pula yang tidak.
Dan dikatakan pula bahwa air mata yang palsu (dibuat-buat) tidaklah tersembunyi seperti dikatakan:

إذا اشتكت دموع في خدود تبين من بكى ممن تباكى

Ketika air mata mengalir di pipi jelaslah siapa yang memang menangis dan siapa yang berpura-pura”.

Ibnul Jauzi mengatakan:”Iblis telah membuat suatu tipuan terhadap kebanyakan orang awam. Mereka hadir dalam majelis dzikir, menangis dan cukup dengan itu. Dalam keadaan menyangka bahwa hadir dan menangis itulah tujuan mereka. Hal ini karena mereka tahu keutamaan hadir di majelis dzikir. Seandainya mereka tahu bahwa tujuan sesungguhnya adalah amalan dan apabila mereka tidak mengamalkan apa yang mereka dengar akan semakin kuat hujjah (alasan) terhadap mereka (untuk menghukum mereka).
Dan saya sebetulnya tahu orang-orang yang hadir di majelis sejak beberapa tahun, menangis dan tampak khusyuk. Namun tidak pernah berubah dari kebiasaan mereka memakan riba, menipu dalam jual beli, tidak mengerti rukun shalat, selalu berbuat ghibah dan mendurhakai kedua orang tua.
Mereka telah ditipu oleh iblis yang memperlihatkan kepada mereka bahwa hadir di majelis dzikir dan menangis, akan menghapus dosa-dosa mereka. Sebagian mereka menganggap duduk bersama ulama dan orang shaleh juga akan menjauhkan mereka dari dosa. Sementara yang lain disibukkannya dengan menunda-nunda taubat. Sehingga waktu terus berjalan dan semakin lama. Kemudian dia mendorong yang lain untuk terlihat dalam apa yang mereka dengar dan meninggalkan beramal. (Muntaqa Nafis 542).

(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman).
Sumber: darussalaf.or.id

Bid’ahn
ya Dzikir Jama’ah Ala Arifin Ilham (10)

Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi
Tamayul (bergoyang-goyang) ketika berdzikir

Lajnah (Lajnah Daimah – Dewan Riset dan Fatwa Saudi Arabia, red) ditanya:”Apakah dzikir yang dilakukan sebagian orang Mesir merupakan bagian dari agama? Misalnya mereka berdiri dan bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan sambil menyebut-nyebut lafadz Allah?
Jawab:
Perbuatan ini, kami tidak tahu dasarnya dalam ajaran agama Allah ini. Dia adalah bid’ah, menyelisihi syari’at Allah, wajib diingkari apalagi kalau mampu melakukannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu dalam urusan kami yang bukan daripadanya, maka dia tertolak.”(HSR. Imam Bukhari-Muslim dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha).

Dan banyak hadits yang shahih dalam masalah ini. (Fatawa Lajnah Daimah 2/521-522).
(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman).
Sumber: darussalaf.or.id

Bid’ahnya Dzikir Jama’ah Ala Arifin Ilham (11)

Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi
Cara Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam

Tokoh Sufi ini (Arifin Ilham) dalam dzikir-dzikirnya menyebutkan pula cara-cara bid’ah dalam mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, antara lain:

اللهم عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته
“Ya Allah, kepadamulah wahai Nabi, rahmat Allah dan berkah-Nya.”
اللهم صل وسلم على رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.”
السلام عليك يا نبي الله
“Kesejahteraan atasmu, wahai Nabi Allah.”
السلام عليك يا رسول الله
“Kesejahteraan atasmu, wahai Rasulullah.”
السلام عليك يا حبيب الله
“Kesejahteraan atasmu, wahai Kekasih Allah.”
يا نبي سلام عليك
“Wahai Nabi, kesejahteraan atasmu.”
يا رسول سلام عليك
“Wahai Rasul, kesejahteraan atasmu.”
يا حبيب سلام عليك
“Wahai kekasih, kesejahteraan atasmu.”
صلوات الله عليك
“Shalawatullah semoga tercurah kepadamu.”

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari bacaan-bacaan shalawat ini, yaitu:
Yang pertama, tidak demikian cara atau bacaan shalawat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kepada ummatnya. Dan bukan hak kita untuk membuat-buat cara baru yang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya, karena hal ini merupakan perbuatan bid’ah dalam masalah agama.

Imam Bukhari (no 3370) dan Muslim (no 406) meriwayatkan dari Ka’b bin ‘Ujrah radliyallahu ‘anhu, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam keluar menemui kami, lalu kamipun berkata:”Kami sudah tahu bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana mengucapkan shalawat untukmu?’ Beliau berkata:

((قولوا : اللهم صل على محمدكما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد))

“Ucapkanlah:”Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Dalam riwayat Muslim (no 405) dari hadits Abu Mas’ud Al Badri radliyallahu ‘anhu, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam datang kepada kami, ketika sedang berkumpul di tempat Sa’d bin ‘Ubadah.
Maka Basyir bin Sa’d berkata:
”Allah telah memerintahkan kami untuk bershalawat kepadamu, wahai Rasulullah, maka bagaimana caranya?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dia sehingga kami berharap seandainya dia tidak bertanya kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata:

قولوا : اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد واسلام كما قد علمتم

“Ucapkanlah:”Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkah kepada keluarga Ibrahim. Di seluruh alam ini, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan ucapan salam sebagaimana yang telah kalian ketahui.”

Dan tidak ada satu dalil yang tsabit sama sekali bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengajarkan para sahabatnya seperti bid’ah yang diada-adakan oleh sufi ini.
Seandainya hal itu memang baik, niscaya mereka pasti telah mendahului kita mengerjakannya, maka hendaklah diperhatikan hal ini!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan:
”Bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sesuai dengan lafaz hadits itu lebih utama (afdlal) dari lafaz yang manapun dan tidak boleh ditambah seperti dalam azan, maupun tasyahhud. Demikian yang ditegaskan Imam yang empat (Malik, Abu hanifah, Syafi’i dan Ahmad –ed). (Muhktashar Ftawa Mishriyah 92).

Diantara bacaan-bacaan shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh sebagian kaum sufi adalah seperti yang dipaparkan oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu dalam kitabnya “Minhajul Firqatun Najiyah”. Dan di sini akan saya nukil apa yang ditulis oleh beliau hafizhahullah untuka menambah kejelasan masalah ini:
Bacaan-bacaan shalawat bid’ah
Kami mendengar beberapa bentuk bacaan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang bid’ah. Sama sekali tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, para sahabatnya, tabi’in dan imam-imam mujtahid. Bacaan-bacaan ini hanyalah buatan beberapa syaikh yang belakangan. Dan setelah itu tersebar di kalangan orang-orang awam dan ahli ilmu. Akhirnya mereka membacanya lebih banyak dibandingkan bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah. Bahkan sering pula mereka tinggalkan sama sekali shalawat yang benar (yang diajarkan Rasulullah) dan menyebarkan shalawat yang mereka terima dari para syaikh tersebut. Padahal kalau kita perhatikan dengan seksama bacaan-bacaan shalawat ini terlihat penyimpangannya dari shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah.
Diantara bacaan-bacaan shalawat itu adalah:

اللهم صل على محمد طب القلوب ودواءها, وعافية الأبدان وشفاءها ونور الأبصار وضياءها وعلى آله وسلم

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan kesejahteraan kepada Muhammad, penyenang hati dan obatnya. Penyehat tubuh dan penyembuh, cahaya dan penerang mata, beserta keluarganya.”

Sesungguhnya Asy Syafi (Yang Menyembuhkan) dan Al Mu’afi (Yang Menyehatkan) penyakit pada tubuh, hati dan mata hanyalah Allah satu-satunya. Adapun Rasulullah tidak memiliki kekuasaan terhadap dirinya apalagi orang lain. Susunan kalimat seperti do’a ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شاء الله.

“Katakanlah (wahai Muhammad):”Aku tidak memiliki kekuasaan emberi manfaat untuk diriku dan tidak pula mudlarat kecuali apa yang dikehendaki Allah.”(Al A’raf 188).
Bertentangan pula dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم فإنما أنا عبد فقولوا عبد الله ورسوله

“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku seperti orng-orang Nashara yang memuji Ibnu Maryam (Nabi ‘Isa). Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.”(HSR. Bukhari).

Al Ithra` adalah berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam memuji.
Saya lihat sebuah kitab tentang keutamaan shalawat yang ditulis oleh seorang syaikh dari Lebanon, tokoh besar kaum sufi dengan susunan sebagai berikut:

اللهم صل على محمد حتى تجعل منه الأحدية القيومية

“Ya Allah limpahkan shalawat kepada Muhammad sehingga Kau jadikan daripadanya Al Ahadiyah Al Qayyumiyah.”

Al Ahadiyah Al Qayyumiyah adalah sebagian dari sifat Allah yang disebutkan dalam Al Quran. Di sini dia sandangkan sifat ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.

Dalam kitab Ad’iyah Ash Shabah wal Masa` yang ditulis oleh seorang syaikh besar dari Suria, katanya:

اللهم صل على محمد الذي خلقت من نوره كل شيء

“Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad yang Engkau ciptakan dari nur-nya (cahayanya) segala sesuatu.”

Sesuatu di sini termasuk Adam, iblis, anjing, babi dan sebagainya. Apakah mungkin seorang yang berakal mengatakan bahwa dia diciptakan dari cahaya Muhammad?
Padahal syaithan sendiri mengetahui dari apa dia dan Adam diciptakan, Allah Ta’ala menerangkan perkataan iblis ini dalam Al Quran:

أنا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين

“Saya lebih baik dari dia (Adam). Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah.”(Shaad 76).

Ayat ini dengan tegas membantah perkataan syaikh tersebut [Dan Allah Ta'ala nyatakan pula bahwa Bani Adam ini diciptakan-Nya dari setetes air yang hina. Sebagaimana dalam surat Alif laam As Sajdah ayat 8].
Termasuk bacaan shalawat bid’ah juga:

الصلاة والسلام عليك يا رسول الله , ضاقت حيلتي فأدركني يا حبيب الله

“Shalawat dan salam atasmu, wahai Rasulullah. Sempit rasanya keadaanku, selamatkanlah aku, wahai kekasih Allah.”

Bagian pertama dari shalawat ini dapat diterima, namun pada bagian kedua terdapat bahaya kesyirikan. Yaitu ucapannya أدركني يا حبيب الله selamatkanlah aku wahai kekasih Allah. Ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

أمن يجيب المضطر إذا دعاه ويكشف السوء

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang kesulitan ketika dia berdo’a kepada-Nya dan melenyapkan kesusahan…”(An Naml 62).
Dan:

وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو

“Jika Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya kecuali Dia sendiri..”(Al An’am 17).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sendiri apabila ditimpa keresahan dan rasa gelisah, selalu berdo’a:

يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث

“Ya Hayyu (Allah Yang Maha Hidup), Ya Qayyum (Allah Yang Maha Berdiri sendiri), dengan rahmat-Mu aku mohon bantuan-Mu.” (HR. At Tirmidzi, katanya hadits hasan).

Bagaimana mungkin boleh bagi kita mengatakan demikian kepada beliau, selamatkanlah kami dan tolonglah kami?! Kalimat dalam do’a ini bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله

“Kalau kalian meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika kalian memohon pertolongan, maka minta tolonglah kepada Allah.”(HR. At Tirmidzi, katanya hasan shahih).

Shalawat Fatih, isinya:

اللهم صل على محمد الفاتح لما أغلق

“Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, yang membuka semua yang terkunci.”
Orang yang mengucapkannya mengira membaca do’a ini lebih utama (afdlal) daripada membaca Al Quran 6000 kali. Dan ini dinukil dari ucapan Ahmad At Tijani, pemimpin tarekat (sesat) At Tijaniyah.

Sungguh, ini benar-benar suatu kebodohan kalau ada orang yang berakal apalagi muslim untuk mengatakan bahwa membaca do’a seperti ini lebih utama daripada membaca Kalamullah walau satu kali. Apalagi lebih dari 6000 kali. Ini tidak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.

وأما وصف الرسول بالفاتح لما أغلق على إطلاقه دون تقييده بمشيئة الله فهو خطأ, لأن الرسول لم يفتح مكة إلا بمشيئة الله , ولم يستطع فتح قلب عمه للإيمان بالله , بل مات على الشرك والقرآن يخاطب الرسول قائلا :
Adapun mensifatkan Rasulullah sebagai Al Fatih terhadap segala sesuatu yang terkunci secara mutlak, tidak dibatasi dengan masyiatillah (kehendak Allah), ini suatu kesalahan besar. Karena Rasulullah tidak membuka (membebaskan) kota Makkah melainkan dengan kehendak Allah. Nyatanya Beliau tidak mampu membuka hati pamannya (Abu Thalib) untuk beriman kepada Allah. Dan dia mati dalam kesyirikan. Al Quran dengan tegas menyebutkan tentang keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam ini:

إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء

“Sesungguhnya engkau (hai Muhammad) tidak dapat memberi hidayah orang yang kau cintai. Tapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”(Al Qashash 56).

Dan firman Allah Ta’ala:
إنا فتحنا لك فتحا مبينا
“Sesungguhnya Kami telah membukakan kepadamu (pintu) kemenangan yang nyata.”(Al Fath 1).
Penulis Dalailul Khairat dalam Hizb ke tujuh, mengatakan:

اللهم صل على محمد ما سجعت الحمائم, ونفعت التمائم

“Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, sepanjang kicauan burung-burung merpati dan bermanfaatnya jimat-jimat.”

Tamimah (jamaknya tamaim) adalah jimat, yang dipasang pada anak-anak dan yang lainnya untuk melindungi dari ‘ain (penyakit akibat pandangan mata).[Al 'Ain pandangan dari seseorang yang dengki dan jiwanya keji. (Qaulul Mufid syaikh Muhammad Al 'Utsaimin).] Jimat ini tidak akan memberi manfaat bagi yang memasang atau yang dipasangkan kepadanya. Bahkan sebetulnya, ini termasuk perbuatan orang-orang musyrik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

قال : من علق تميمة فقد أشرك . صحيح رواه أحمد

“Barangsiapa yang menggantungkan jimat berarti telah berbuat syirik.”(HSR. Ahmad).
Susunan kalimat dalam shalawat ini bertentangan dengan hadits ini. Dan mengira bahwa kesyirikan dan jimat ini merupakan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Juga ada bacaan lain, yaitu:

اللهم صل على محمد حتى لا يبقى من الصلاة شيء, وارحم محمدا حتى لا يبقى من الرحمة شيء

“Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sehingga tidak ada tersisa sedikitpun shalawat yang ada, dan rahmatilah Muhammad sehingga tidak ada tersisa dari rahmat itu sedikitpun.”

Kalimat ini mengungkapkan bahwa shalawat itu adalah rahmat. Padahal rahmat itu merupakan salah satu sifat fi’liyah (perbuatan) Allah, seakan-akan dia menganggap bahwa rahmat ini bisa dibatasi dan berakhir. Dan Allah membantahnya dengan firman-Nya:

قل لو كان البحر مدادا لكلمات ربي لنفد البحر قبل أن تنفد كلمات ربي, ولو جئنا بمثله مددا

“Katakanlah:”Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat rabbku, niscaya habislah lautan itu sebelum habis kalimat Rabbku itu dituliskan meskipun Kami datangkan tambahan tinta sebanyak itu pula.”(Al Kahfi 109).

Shalawat Basyisyah, dia mengatakan:

اللهم انشلني من أوحال التوحيد, وأغرقني في عين بحر الوحدة, وزج بي في الأحدية حتى لا أرى ولا أسمع ولا أحس إلا بها

“Ya Allah keluarkan aku dari lumpur tauhid dan tenggelamkan aku dalam lautan wihdah (wihdatul wujud). Sandingkan aku dalam keesaan sehingga aku tidak melihat, mendengar dan merasa kecuali dengannya.”

Ini adalah madzhab orang-orang yang meyakini bersatunya Khaliq (Allah) dengan makhluk. Dan tauhid itu di dalamnya ada lumpur dan kotoran, sehingga dia berdo’a agar dikeluarkan dari tauhid dan ditenggelamkan dalam lautan wihdatul wujud agar dapat melihat ilahnya ada pada segala sesuatu. Bahkan tokohnya mengatakan:”Tidaklah anjing dan babi melainkan ilah kita dan Allah tidak lain adalah rahib-rahib yang ada di gereja-gereja.”(Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan).[ Ibnul Mubarak rahimahullahu mengatakan:"Kami sanggup mengutarakan kembali ucapan orang-orang Yahudi dan Nashara tetapi kami tidak sanggup mengungkapkan pendapat orang-orang Jahmiyah yang mengatakan Allah ada di mana-mana."]

Orang-orang nashara terjatuh ke dalam jurang kesyirikan ketika mereka menyekutukan Allah dengan menyatakan ‘Isa putera Allah. Sementara mereka (wihdatul wujud) menjadikan semua makhluk itu sekutu Allah. Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan oleh kaum musyrikin ini
Berhati-hatilah wahai saudara sesama muslim, dari bentuk shalawat bid’ah ini. Karena dia akan menjerumuskan engkau ke dalam jurang kesyirikan. Di samping itu juga telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang tidak berbicara dari hawa nafsunya. Janganlah kamu menyimpang dari tuntunan beliau:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد.

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.”

Shalawat Nariyah. Shalawat ini dikenal oleh mayoritas kaum muslimin. Dikatakan bahwa siapa yang membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat melepaskan diri dari kesulitan, atau menunaikan suatu kebutuhan, pasti akan terlaksana. Ini adalah sangkaan yang sesat dan salah besar. Tidak ada dalilnya sama sekali. Apalagi kalau anda mengetahui isi bacaannya, niscaya anda akan melihat kesyirikan yang nyata, inilah bacaannya:

اللهم صل صلاة كاملة, وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد, الذي تنحل به العقد, وتنفرج به الكرب, وتقضى به الحوائج, وتنال به الرغائب, وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم, وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك

“Ya Allah limpahkanlah shalawat yang sempurna, kesejahteraan yang lengkap kepada junjungan kami Muhammad yang dengannya belenggu terlepas, kesulitan berakhir, segala kebutuhan terpenuhi, harapan tercapai, akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah), awan menurunkan hujannya dengan wajahnya yang mulia. Begitupula keluarga dan para shabatnya sebanyak yang Engkau ketahui.”

Sesungguhnya di antara prinsip ajaran ‘aqidah tauhid yang diserukan oleh Al Quran dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan wajib diketahui oleh setiap muslim adalah meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya yang melepaskan belenggu, melenyapkan kesulitan, memenuhi segala kebutuhan dan memberikan semua yang diharapkan oleh manusia ketika dia berdo’a kepada Allah.
Tidak boleh bagi seorang muslim berdo’a kepada selain Allah agar menghilangkan kegelisahannya atau menyembuhkan sakitnya, walaupun dia berdo’a kepada malaikat yang didekatkan atau Nabi yang diutus.

Al Quran dengan tegas mengingkari berdo’a kepada selain Allah, walaupun yang diseru dalam do’a itu adalah Rasul ataupun wali:

قل ادعوا الذين زعمتم من دونه, فلا يملكون كشف الضر عنكم ولا تحويلا, أولئك الذين يدعون يبتغون إلى ربهم الوسيلة أيهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون عذابه إن عذاب ربك كان محذورا

“Katakanlah:”Panggillah mereka yang kamu anggap (sesembahan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula dapat memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabbnya, siapa di antara mereka yang lebih dekat dan mengharapkan rahmat-Nya serta takut kepada azab-Nya. sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.”(Al Isra` 56-57).

Para ulama ahli tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan satu golongan manusia yang berdo’a kepada Al Masih (Nabi ‘Isa), atau malaikat atau orang-orang shalih dari kalangan jin.
Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam rela dikatakan mampu melepaskan belenggu, menghilangkan kesulitan. Padahal Allah berfirman dalam Al Quran memerintahkan:

قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شاء الله, ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء, إن أنا إلا نذير وبشير لقوم يؤمنون

“Katakanlah (wahai Muhammad):”Aku tidak memiliki kekuasaan emberi manfaat untuk diriku dan tidak pula mudlarat kecuali apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku mengetahui yang ghaib sungguh aku akan memperbanyak kebaikan dan tentulah aku tidak akan ditimpa kejelekan.”(Al A’raf 188).

Dan pernah datang seseorang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam lalu berkata kepada beliau : ما شاء الله وشئت(Yang dikehendaki Allah dan engkau).”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata kepadanya:

أجعلتني لله ندا؟ قل ما شاء الله وحده

“Apakah kau mau menjadikan saya tandingan bagi Allah?Tapi Katakanlah: ما شاء الله وحده (Apa yang dikehendaki Allah satu-satunya).”(HR. An Nasai dengan sanad hasan).
An Nid adalah tandingan atau sekutu.
Dan di akhir bacaan itu sendiri terdapat pembatasan terhadap ma’lumat (yng diketahui) Allah. Ini kesalahan yang fatal.
Seandainya kita ganti bihi (kembalinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam) dengan biha (kembalinya kepada shalawat) tentulah pengertiannya lebih baik. Tanpa harus mengiltizamkan jumlah yang tidak disyari’atkan. Sehingga menjadi seperti berikut ini:

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على محمد, التي تحل بها العقد

“Ya Allah limpahkanlah shalawat yang sempurna, kesejahteraan yang lengkap kepada junjungan kami Muhammad yang dengannya itu belenggu terlepas.”

Yakni dengan shalawat itu. Karena membaca shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam adalah ibadah yang boleh kita bertawassul (menjadikan perantara) untuk lepas dan selamat dari kesulitan dan kesempitan.

لماذا هذه الصلوات البدعية من كلام المخلوق, ونترك الصلاة الإبراهيمية وهي من كلام المعصوم ؟. (الفرقة الناجية : 224 – 228 )

Mengapa kita mengamalkan shalawat bid’ah yang diajarkan oleh orang yang tidak ma’shum dan kita tinggalkan shalawat Ibrahimiyah yang justeru diajarkan oleh orang yang ma’shum (Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam)? (Firqatun Najiyah 224-228).

أن لفط (حبيب الله) لم تثبت نسبته إلى النبي صلى الله عليه وآله وسلم. وإنما الثابت عنه لفظ (خليل الله ) كما سنذكره إن شاء الله تعالى.

Yang kedua, lafaz habibullah tidak tsabit dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Yang tsabit adalah justeru khalilullah. Sebagaimana akan kami uraikan.
Ibnu Abil ‘Izzi Ad Dimasyqi dalam Syarah Ath Thahawiyah mengatakan:”Dipastikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memiliki derajat mahabbah yang paling tinggi, yaitu khullah (khalil). Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sahih dari beliau:

إن الله اتخذني خليلا كما اتخذ إبراهيم خليلا

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan saya sebagai khalil-Nya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil.”(HSR. Muslim).
Dan:
ولو كنت متخذا من أهل الأرض خليلا لاتخذت أبا بكر خليلا, ولكن صاحبكم خليل الرحمن

“Dan seandainya aku mengambil khalil dari penduduk bumi ini, maka sungguh aku akan mengambil Abu Bakr sebagai Khalil. Tetapi sahabat kalian ini (beliau sendiri) adalah Khalilur Rahman.”(HSR. Ibnu Abi Syaibah dan semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim).

Kedua hadits ini sebagaimana disebutkan ada dalam shahihain dan cukup untuk membantah ucapan mereka yang mengatakan:”Khullah untuk Ibrahim, Mahabbah (habib) untuk Muhammad. Maka Ibrahim adalah Khalilullah sedangkan Muhammad adalah habibullah. Di dalam sahih Muslim dari ‘Abdullah bin Mas’ud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

إني أبرأ إلى كل خليل من خلته

“Saya berlepas diri kepada setiap khalil dari khullahnya.”

Adapun mahabbah maka ini berlaku dan ada pada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

والله يحب المحسنين

“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(Ali ‘Imran 134).
Dan firman Allah Ta’ala:
فإن الله يحب المتقين

“Maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”(Ali ‘Imran 76).
إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan selalu bersuci.”(Al Baqarah 222).

Dengan demikian jelaslah batilnya ucapan mereka yang mengatakan khullah untuk Nabi Ibrahim, sedangkan mahabbah untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihima wa sallam. Adapun hadits Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi yang di dalamnya disebutkan:

إن إبراهيم خليل الله, ألا وأنا حبيب الله ولا فخر

“Sesungguhnya Ibrahim Khalilullah, dan saya Habibullah, bukan sombong.”

Bukanlah hadits yang sahih. (Syarh ‘Aqidah Thahawiyah 1/164-165, tahqiq Al Arnauth).
(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman).
Sumber: darussalaf.or.id


Sampaikan ke teman,ortu,saudara
Biar jadi amal jariyah


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar